Senin, 30 Mei 2011

PROSEDUR BERPERKARA PADA PENGADILAN AGAMA SELATPANJANG

( Drs. H. ASRIL )
Panitera Pengadilan Agama Selatpanjang

Prosedur berperkara pada Pengadilan Agama Selatpanjang adalah sebagai berikut:

Tempat Pendaftaran :
Pengadilan Agama Selatpanjang, Jalan Dorak – Selatpanjang – Riau Telp. (0763) 32220, Fax (0763) 434000.

Waktu:
Hari Senin s.d. Jum'at
Jam 08.00 s.d 16.00 wib

Cara Pendaftaran:
Pihak berperkara langsung datang ke Kepaniteraan Pengadilan Agama Selatpanjang sebagaimana waktu yang telah ditentukan di atas dan tidak boleh diwakilkan, kecuali jika telah menguasakan pada Pengacara/Advokat yang telah diberi kuasa oleh pihak berperkara.
Tata cara pengajuan dan syarat-syarat berperkara di Pengadilan Agama Selatpanjang :
(untuk melihat secara details, klik pada jenis perkara di bawah yang berwarna biru).

1. Perkara tingkat pertama:
a. Cerai Talak (cerai yang mengajukan pihak suami)
b. Cerai Gugat (cerai yang mengajukan pihak isteri)
c. Perkara Lain.
2. Perkara Tingkat Banding.
3. Perkara tingkat kasasi.
4. Perkara peninjauan kembali.

Perhatian:
-- Pendaftaran perkara hanya dapat dilakukan di Kepaniteraan Pengadilan Agama Selatpanjang.
-- Panjar biaya perkara dibayar melalui Bank Riau Syariah Cabang Selatpanjang dan sekali-kali tidak dibolehkan disetorkan melalui Kasir atau melalui Pegawai Pengadilan Agama Selatpanjang
-- Semua perkara yang masuk ke PA Selatpanjang harus melalui proses persidangan.

Perkara cerai talak adalah perkara perceraian dimana pihak yang mengajukan atau pihak yang menghendaki perceraian adalah pihak suami.

Persyaratan Umum :
Membayar panjar biaya perkara yang telah ditetapkan (sesuai dengan radius ), dapat dilihat pada menu Daftar Radius PA Selatpanjang yang dibayarkan oleh pihak ke Counter Kas Bank Riau Cabang Selatpanjang dengan membawa SKUM dari petugas Meja I.

Persyaratan khusus:
1). Surat permohonan cerai, dibuat rangkap 6.
2). Asli Akta Nikah/Duplikat Kutipan Akta Nikah.
3). Satu lembar foto copy Akta Nikah/Duplikat Kutipan Akta Nikah
yang dimateraikan Rp 6.000,- di Kantor Pos.
4). Foto copy KTP 1 lembar folio 1 muka (tidak boleh dipotong) yang
dimateraikan Rp 6.000,- di Kantor Pos.
5). Surat Keterangan Ghaib dari Kepala Desa/Lurah apabila Tergugat/Termohon tidak
diketahui alamatnya.
6). Surat Ijin Atasan (bagi PNS/TNI/POLRI).

Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon (Suami) atau Kuasanya:
1. a. Mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan kepada pengadilan
agama/mahkamah syar’iyah (Pasal 118 HIR, 142 R.Bg jo Pasal 66 UU No. 7 Tahun 1989);
b. Pemohon dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada pengadilan agama/mahkamah
syar’iah tentang tata cara membuat surat permohonan (Pasal 119 HIR, 143 R.Bg jo.Pasal 58 UU No. 7 Tahun 1989);
c. Surat permohonan dapat dirubah sepanjang tidak merubah posita dan petitum. Jika
Termohon telah menjawab surat permohonan ternyata ada perubahan, maka
perubahan tersebut harus atas persetujuan Termohon.
2. Permohonan tersebut diajukan kepada pengadilan agama/mahkamah syar’iah:
a. Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (Pasal 66 ayat (2) UU
No. 7 Tahun 1989);
b. Bila Termohon meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa
izin Pemohon, maka permohonan harus diajukan kepada pengadilan agama/
mahkamah syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon
(Pasal 66 ayat (2) UU No. 7 Tahun 1989);
c. Bila Termohon berkediaman di luar negeri, maka permohonan diajukan kepada
pengadilan agama/mahkamah syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat
kediaman Pemohon (Pasal 66 ayat (3) UU No. 7 Tahun 1989);
d. Bila Pemohon dan Termohon bertempat kediaman di luar negeri, maka permohonan
diajukan kepada pengadilan agama/mahkamah syar’iyah yang daerah hukumnya
meliputi tempat dilangsungkannya perkawinan atau kepada Pengadilan Agama
Jakarta Pusat (Pasal 66 ayat (4) UU No. 7 Tahun 1989).

3. Permohonan tersebut memuat :
a. Nama, umur, pekerjaan, agama dan tempat kediaman Pemohon dan Termohon;
b. Posita (fakta kejadian dan fakta hukum);
c. Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita).
4. Permohonan soal penguasan anak, nafkah anak, nafkah istri dan harta bersama dapat diajukan bersama-sama dengan permohonan cerai talak atau sesudah ikrar talak
diucapkan (Pasal 66 ayat (5) UU No. 7 Tahun 1989).
5. Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat (4) HIR, 145 ayat (4) R.Bg. Jo Pasal 89 UU No. 7 Tahun 1989), yang telah mengalami perubahan dan yang terakhir dengan UU No. 50 Tahun 2009, bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (prodeo) (Pasal 237 HIR, 273 R.Bg).

Proses Penyelesaian Perkara :
1. Pemohon mendaftarkan permohonan cerai talak ke pengadilan agama/mahkamah
syar’iyah.
2. Pemohon dan Termohon dipanggil oleh pengadilan agama/mahkamah syar’iah untuk
menghadiri persidangan.
3. Tahapan persidangan :
a. Pada pemeriksaan sidang pertama, hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak, dan suami istri harus datang secara pribadi (Pasal 82 UU No. 7 Tahun 1989);
b. Apabila tidak berhasil, maka hakim mewajibkan kepada kedua belah pihak agar
lebih dahulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat (1) PERMA No. 2 Tahun 2003);
c. Apabila mediasi tidak berhasil, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan
membacakan surat permohonan, jawaban, jawab menjawab, pembuktian dan
kesimpulan. Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Termohon dapat
mengajukan gugatan rekonvensi (gugat balik) (Pasal 132 a HIR, 158 R.Bg);

Putusan pengadilan agama Selatpanjang atas permohonan cerai talak sebagai berikut :
a. Permohonan dikabulkan. Apabila Termohon tidak puas dapat mengajukan banding
melalui pengadilan agama Selatpanjang ;
b. Permohonan ditolak. Pemohon dapat mengajukan banding melalui pengadilan
agamaSelatpanjang;
c. Permohonan tidak diterima. Pemohon dapat mengajukan permohonan baru.

Apabila permohonan dikabulkan dan putusan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka :
a. Pengadilan agama Selatpanjang menentukan hari sidang penyaksian ikrar talak;
b. Pengadilan agama Selatpanjang memanggil Pemohon dan Termohon untuk
melaksanakan ikrar talak;
c. Jika dalam tenggang waktu 6 (enam) bulan sejak ditetapkan sidang penyaksian ikrar talak, suami atau kuasanya tidak melaksanakan ikrar talak didepan sidang, maka gugurlah kekuatan hukum penetapan tersebut dan perceraian tidak dapat diajukan lagi berdasarkan alasan hukum yang sama (Pasal 70 ayat (6) UU No. 7 Tahun 1989)jo, UU No. 50 Thun 2009 (perubahan Kedua atas UU No, 7 tahun 1989.

Setelah ikrar talak diucapkan Panitera berkewajiban memberikan Akta Cerai sebagai
surat bukti kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah penetapan ikrar talak (Pasal 84 ayat (4) UU No. 7 Tahun 1989, yang telah mengalami perubahan beberapa kali dan terakhir diubah dengan UU. No. 50 tahun 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar